Derita Seorang Ibu ( Renungan di kaki salib )
Derita Seorang Ibu ( Renungan di kaki salib )
“Dekat Salib Yesus, berdirilah Maria ibuNya.”(John 19; 25.) Sebagaimana Yesus, Maria sudah amat akrab dengan penderitaan. Bayangkan! Betapa besar penderitaan yang harus dipikul oleh Maria ketika ia harus membaringkan si kecil Yesus, yang menurut kata Malekat merupakan anak Allah, ketika didapati tak ada tempat yang kosong baginya di Betlehem? Betapa hati Maria seharusnya sakit dan pedih ketika ia tahu bahwa Herodes beritikat buruk untuk membunuh bayi yang masih kecil itu? Dan betapa Maria harus menanggung sengsara ketika ia terpaksa harus melarikan diri ke tanah asing, ke Mesir agar bayi mungil Yesus terhindar dari pedang Herodes? Sebagaimana layaknya seorang ibu yang menghendaki agar anaknya diterima di kalangan masyarakat, betapa Maria harus menahan pedih ketika melihat Yesus ditolak dan dibenci dan akhirnya diborgol oleh orang-orangnya sendiri. Kini tak ada kata yang tepat untuk melukiskan kepedihan bathin Maria ketika ia berdiri di bawah kaki salib ini.
Masih ingatkah anda sekitar tiga puluh tahun silam saat Simeon bernubuat bahwa sang bayi yang dipersembahkan oleh Maria di Kenisah itu akan menjadi seumpama sebilah pedang tajam yang akan menembusi hati Maria? Josef dan Maria membawa bayi Yesus ke Kenisah untuk dipersembahkan kepada Allah. (Luk 2:22). Di sana mereka bertemu Simeon yang telah lama menantikan kehadiran seorang penebus. (Luk 2:25). Dipenuhi oleh Roh Kudus sambil menggendong sang bayi di atas kedua belah tangannya, Simeon menyanyikan lagu pujian kepada Allah. Setelah itu ia berbalik kepada Maria dan berkata;
“Anak ini akan menjadi alat yang menjatuhkan dan mebangkitkan banyak orang Israel, serta menjadi tanda yang membawa pertentangan yang membuka pikiran setiap orang. Dan sebilah pedang akan menembusi bathinmu.” (Lk 2:34-35)
Kata-kata yang kedengarannya aneh, khususnya pada kalimat terakhir “Dan sebilah pedang akan menembusi bathinmu.”Tak ada yang mengatakan kepada kita bahwa Maria mengingat kata-kata ini ketika ia berdiri di bawah kaki salib Yesus, pedih dan sakit hati menyaksikan anaknya yang tergantung telanjang di atas salib. Namun kita tahu satu hal, yakni bahwa kata-kata ramalan Simeon kini menjadi kenyataan buat Maria; sebilah pedang kini sedang menembusi jiwanya ketika ia berdiri di kaki salib ini menyaksikan peristiwa penyaliban anak tunggalnya.
Kita tak mengenal banyak tentang Maria kecuali peristiwa-peristiwa menjelang dan saat kelahiran di Betlehem. Ia berdiri di latar belakang. Namun kini, di saat Yesus mengalami penderitaan yang maha hebat ini, Ia berdiri mendekap hatinya yang terluka di kaki salib. Sebilah pedang sedang menyayati hatinya.
Bila anda adalah orang tua terutama yang pernah kehilangan anak yang amat dicintai, pasti anda bisa memahami situasi kepedihan yang dialami Maria. Bayangkan bahwa ia yang kini berada di atas salib adalah anakmu sendiri. Andalah orang pertama yang memberikan ciuman mesrah di keningnya yang kini dilingkari duri tajam ketika ia dilahirkan. Andalah orang pertama yang memegang tangannya dan menuntunnya berjalan, tangan yang kini ditembusi paku tajam. Oh…. masih adakah penderitaan yang lebih besar dari pada kepedihan seorang ibu yang menyaksikan anaknya mati secara demikian???
“Dekat salib Yesus berdiri Maria ibunya.” (John 19; 25.) Orang- orang banyak memberikan olokan kepada Yesus. Penjahat yang disalibkan bersamanyapun menghujat Dia. Para imam dan para serdadu berpesta ria membagi hasil jarahan dari tubuh Yesus dengan cara membuang undi. Sementara itu pada saat yang sama Yesus mengucurkan darah dan bergulat menghadapi sakrat maut. Saat itu, ibunya melihat semua yang terjadi dengan matanya yang telanjang. Sungguh sebilah pedang kini menembusi bathinnya.
Yesus mengucurkan darah dan menghadapi sakrat maut. Pada saat yang sama Ia melihat sang ibu, ia memikirkan ibunya. Ia tahu betapa ibunya menanggung penderitaan yang sekian dalam bersama dan karena diriNya. Karena itu Ia memberikan sebuah kata hiburan bagi sang ibu yang lagi bersedih:
“Yesus berkata kepada IbuNya; “Ibu; Ini anakmu, dan kepada muridNya: “Ini ibumu.” (John 19:26-27) Yesus memahami kepedihan Maria. Yesus memahami penderitaan Maria sebagai orangtua dan sebagi seorang ibu. Karena itu pada saat menghadapi kegetiran hidup yang paling getir, Ia berbicara kepada ibunya, Ia memberikan kata-kata penghiburan kepada ibunya. Sungguh….. bahkan dari atas salib penderitaan yang paling hina, Yesus masih mampu menunjukan cinta dan perhatian yang mendalam kepada orang-orang di sekitarnya.
Adakah aku juga rela memperhatikan sama saudaraku di sekitarku???
Sumber renungan ini dikutip dari Website tetangga kita Pondokrenungan.Com


