Blog Forum Pemuda/I GKPI Mandala Medan

April 2, 2008

Derita Seorang Ibu ( Renungan di kaki salib )

Filed under: Artikel

Derita Seorang Ibu ( Renungan di kaki salib )


“Dekat Salib Yesus, berdirilah Maria ibuNya.”(John 19; 25.) Sebagaimana Yesus, Maria sudah amat akrab dengan penderitaan. Bayangkan! Betapa besar penderitaan yang harus dipikul oleh Maria ketika ia harus membaringkan si kecil Yesus, yang menurut kata Malekat merupakan anak Allah, ketika didapati tak ada tempat yang kosong baginya di Betlehem? Betapa hati Maria seharusnya sakit dan pedih ketika ia tahu bahwa Herodes beritikat buruk untuk membunuh bayi yang masih kecil itu? Dan betapa Maria harus menanggung sengsara ketika ia terpaksa harus melarikan diri ke tanah asing, ke Mesir agar bayi mungil Yesus terhindar dari pedang Herodes? Sebagaimana layaknya seorang ibu yang menghendaki agar anaknya diterima di kalangan masyarakat, betapa Maria harus menahan pedih ketika melihat Yesus ditolak dan dibenci dan akhirnya diborgol oleh orang-orangnya sendiri. Kini tak ada kata yang tepat untuk melukiskan kepedihan bathin Maria ketika ia berdiri di bawah kaki salib ini.

Masih ingatkah anda sekitar tiga puluh tahun silam saat Simeon bernubuat bahwa sang bayi yang dipersembahkan oleh Maria di Kenisah itu akan menjadi seumpama sebilah pedang tajam yang akan menembusi hati Maria? Josef dan Maria membawa bayi Yesus ke Kenisah untuk dipersembahkan kepada Allah. (Luk 2:22). Di sana mereka bertemu Simeon yang telah lama menantikan kehadiran seorang penebus. (Luk 2:25). Dipenuhi oleh Roh Kudus sambil menggendong sang bayi di atas kedua belah tangannya, Simeon menyanyikan lagu pujian kepada Allah. Setelah itu ia berbalik kepada Maria dan berkata;

“Anak ini akan menjadi alat yang menjatuhkan dan mebangkitkan banyak orang Israel, serta menjadi tanda yang membawa pertentangan yang membuka pikiran setiap orang. Dan sebilah pedang akan menembusi bathinmu.” (Lk 2:34-35)

Kata-kata yang kedengarannya aneh, khususnya pada kalimat terakhir “Dan sebilah pedang akan menembusi bathinmu.”Tak ada yang mengatakan kepada kita bahwa Maria mengingat kata-kata ini ketika ia berdiri di bawah kaki salib Yesus, pedih dan sakit hati menyaksikan anaknya yang tergantung telanjang di atas salib. Namun kita tahu satu hal, yakni bahwa kata-kata ramalan Simeon kini menjadi kenyataan buat Maria; sebilah pedang kini sedang menembusi jiwanya ketika ia berdiri di kaki salib ini menyaksikan peristiwa penyaliban anak tunggalnya.

Kita tak mengenal banyak tentang Maria kecuali peristiwa-peristiwa menjelang dan saat kelahiran di Betlehem. Ia berdiri di latar belakang. Namun kini, di saat Yesus mengalami penderitaan yang maha hebat ini, Ia berdiri mendekap hatinya yang terluka di kaki salib. Sebilah pedang sedang menyayati hatinya.

Bila anda adalah orang tua terutama yang pernah kehilangan anak yang amat dicintai, pasti anda bisa memahami situasi kepedihan yang dialami Maria. Bayangkan bahwa ia yang kini berada di atas salib adalah anakmu sendiri. Andalah orang pertama yang memberikan ciuman mesrah di keningnya yang kini dilingkari duri tajam ketika ia dilahirkan. Andalah orang pertama yang memegang tangannya dan menuntunnya berjalan, tangan yang kini ditembusi paku tajam. Oh…. masih adakah penderitaan yang lebih besar dari pada kepedihan seorang ibu yang menyaksikan anaknya mati secara demikian???

“Dekat salib Yesus berdiri Maria ibunya.” (John 19; 25.) Orang- orang banyak memberikan olokan kepada Yesus. Penjahat yang disalibkan bersamanyapun menghujat Dia. Para imam dan para serdadu berpesta ria membagi hasil jarahan dari tubuh Yesus dengan cara membuang undi. Sementara itu pada saat yang sama Yesus mengucurkan darah dan bergulat menghadapi sakrat maut. Saat itu, ibunya melihat semua yang terjadi dengan matanya yang telanjang. Sungguh sebilah pedang kini menembusi bathinnya.

Yesus mengucurkan darah dan menghadapi sakrat maut. Pada saat yang sama Ia melihat sang ibu, ia memikirkan ibunya. Ia tahu betapa ibunya menanggung penderitaan yang sekian dalam bersama dan karena diriNya. Karena itu Ia memberikan sebuah kata hiburan bagi sang ibu yang lagi bersedih:

“Yesus berkata kepada IbuNya; “Ibu; Ini anakmu, dan kepada muridNya: “Ini ibumu.” (John 19:26-27) Yesus memahami kepedihan Maria. Yesus memahami penderitaan Maria sebagai orangtua dan sebagi seorang ibu. Karena itu pada saat menghadapi kegetiran hidup yang paling getir, Ia berbicara kepada ibunya, Ia memberikan kata-kata penghiburan kepada ibunya. Sungguh….. bahkan dari atas salib penderitaan yang paling hina, Yesus masih mampu menunjukan cinta dan perhatian yang mendalam kepada orang-orang di sekitarnya.

Adakah aku juga rela memperhatikan sama saudaraku di sekitarku???

Sumber renungan ini dikutip dari Website tetangga kita Pondokrenungan.Com

Hujan Tak Menyurutkan Niat Umat Mencium Salib Yesus

Filed under: Rubrik Umum

Kupang, NTT Online - Hujan yang mengguyur Kota Kupang serta sebagian besar wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak menyurutkan niat umat Katolik untuk mencium Salib Yesus pada puncak peringatan Jumat Agung, hari wafatnya Yesus Kristus.

Sementara di lingkungan gereja Kristen Protestan, umat juga memadati tempat-tempat ibadah untuk mengikuti perjamuan suci pada Jumat sore itu.

Tradisi mencium Salib Yesus sudah lama berlangsung dalam tradisi gereja Katolik pada setiap perayaan Jumat Agung untuk mengenang wafatnya Yesus Kristus di kayu salib sebelum hari ketiga Ia bangkit yang dikenal dengan Paskah.

Dalam tradisi gereja Kristen Protestan, perayaan Jumat Agung ini ditandai dengan perjamuan suci untuk mengenang Yesus Kristus mengadakan perjamuan malam terakhir dengan 12 orang muridnya sebelum menyerahkan nyawanya untuk keselamatan umat manusia.

Namun, dalam tradisi gereja Katolik, upacara perjamuan malam terakhir ini biasa dilangsungkan pada misa Kamis Putih, sehari sebelum Yesus wafat.

Ketika tibanya Jumat Agung, orang Katolik mengenang wafatNya dengan mencium salib Yesus sebagai bentuk penghormatan terakhir kepadaNya yang telah menyerahkan nyawanya untuk keselamatan umat manusia.

Sementara di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, umat melakukan cium salib sepanjang hari di Katedral Reinha Rosari Larantuka serta Kapela Tuan Ma sampai menunggu senja menjelang malam untuk mengikuti prosesi Jumat Agung.

Prosesi Jumat Agung ini berupa perarakan Patung Bunda Maria (orang Larantuka menyebutnya Tuan Ma, red) dan Patung Yesus (orang Larantuka menyebutnya Tuan Meninu, red) mengeliling Kota Larantuka yang terletak di kaki Gunung Ile Mandiri itu.

Pada upacara cium salib Yesus ini, berlangsung cukup tertib meski hujan turun dengan derasnya mengguyur Kota Kupang, namun proses ibadahnya terkesan “hambar” karena konsentrasi umat terbagi dengan keadaan cuaca yang kurang bersahabat.

Di Gereja Sta Maria Assumpta Kota Baru, misalnya, banyak umat yang kecewa karena panitia perayaan Paskah tidak menyediakan layar monitor di aula gereja ketika umat diarahkan untuk berteduh di tempat itu.

“Seharusnya dalam situasi seperti ini, pihak panitia sudah mengantisipasinya dengan menyediakan layar monitor agar umat yang berada di aula pun merasa sedang mengikuti ibadah yang dipimpin imam di dalam gereja,” kata Longginus, seorang umat asal Liliba.

Hal yang sama juga dirasakan oleh umat Katolik lainnya di Paroki St Yoseph Naikoten Kupang yang mengikuti upacara cium salib yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang, Pr.

Sumber informasi berita dikutip dari NTT-Online.Org 

Jesus Christ ( He Is God )

Filed under: Artikel

 Jesus Christ Is Our Lord

~He Is God~

He is the First and Last, The Beginning and the End!

He is the keeper of Creation and the Creator of all!
He is the Architect of the universe and the Manager of all times.
He always was, He always is, and He always will be …
Unmoved, Unchanged, Undefeated, and never Undone!

He was bruised and brought healing!
He was pierced and eased pain!
He was persecuted and brought freedom!
He was dead and brought life!
He is risen and brings power!
He reigns and brings Peace!
The world can’t understand him,
The armies can’t defeat Him,
The schools can’t explain Him, and The leaders can’t ignore Him.
Herod couldn’t kill Him, The Pharisees couldn’t confuse Him,  and The people couldn’t hold Him!
Nero couldn’t crush Him, Hitler couldn’t silence Him,
The New Age can’t replace Him, and ‘Oprah’ can’t explain Him away!

He is light, love, longevity, and Lord.
He is goodness, Kindness, Gentleness, and God.
He is Holy, Righteous, mighty, powerful, and pure.

His ways are right,
His word is eternal,
His will is unchanging, and His mind is on me.
He is my Savior,
He is my guide, and He is my peace!
He is my Joy,
He is my comfort,
He is my Lord, and He rules my life!

I serve Him because His bond is love, His burden is light, and His goal for me is abundant life.
I follow Him because He is the wisdom of the wise, the power of the powerful, the ancient of days, the ruler of rulers, the leader of leaders, the overseer of the overcomers, and is to come. And if that seems impressive to you, try this for size.
His goal is a relationship with ME! He will never leave me, never forsake me, never mislead me, never forget me, never overlook me and never cancel my appointment in His appointment book!

When I fall, He lifts me up!
When I fail, He forgives!
When I am weak, He is strong!
When I am lost, He is the way!
When I am afraid, He is my courage!
When I stumble, He steadies me!
When I am hurt, He heals me!
When I am broken, He mends me!
When I am blind, He leads me!
When I am hungry, He feeds me!
When I face trials, He is with me!
When I face persecution, He shields me!
When I face problems, He comforts me!
When I face loss, He provides for me!
When I face Death, He carries me Home!

He is everything for everybody everywhere, every time, and every way.
He is God, He is faithful. I am His, and He is mine!

My Father in heaven can whip the father of this world.
So, if you’re wondering why I feel so secure, understand this…

He said it and that settles it.
God is in control, I am on His side,
and that means all is well with my soul.

Everyday is a blessing for GOD Is!






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer