Blog Forum Pemuda/I GKPI Mandala Medan

April 4, 2008

Smart Traveling - Sumatera Utara

Filed under: Rubrik Umum

 

Rumah Adat Batak

HORAS !! Welcome to Tanah Batak. Persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk memulai perjalanan Anda ada disini.

Rumah Batak Di Ambarita 

LEGENDA KANIBALISME AMBARITA.

Siapa sangka, seperangkat meja dan kursi batu dari masa megalitikum di kampung Ambarita ternyata menyimpan legenda sadistik. Sekitar 300 tahun yang lalu dalam sejarah Batak Toba, merupakan zaman kanibalisme yang mengerikan.
Lazimnya kampung Batak di masa lampau, Ambarita dikelilingi bebatuan berduri sebagai perlindungan dari serangan musuh. 8 rumah adat terlihat berjajar rapi di sana dan masih dihuni. Salah satunya merupakan bekas kediaman raja dari marga Siallagan. Situs megalitik yang megah ini dikenal dengan nama Kawasan Kursi Batu Ambarita di pulau Samosir.
Kisahnya, penduduk Ambarita dulu sering berperang dan memasung musuh yang tertangkap. Lalu, melalui kalender Batak, raja akan menentukan hari untuk menyidangkan tawanan di taman kecil di tengah desa. Taman berumput ini dibangun agak tinggi di atas tumpukan tanah padat. Sebuah pohon hari hara atau pohon hari ketujuh, tumbuh kekar di tengahnya, dengan beberapa kursi batu disekelilingnya. Kursi tengah khusus untuk raja sebagai pengambil keputusan.

PROSESI EKSEKUSI
Jika hukuman mati ditetapkan, tawanan direbahkan dibatu datar, mirip meja makan, di belakang desa. Karena biasanya tawanan dianggap memiliki ilmu hitam, seorang pemancung berpakaian adat lengkap, mula-mula akan menyayat lengan tawanan dengan pisau kecil dan menyiramnya dengan perasan air limau. Saat tawanan menjerit-jerit kesakitan, ini diartikan segala ilmunya telah hilang. setelah itu, tawanan dibedah hidup- hidup, diiringi sorak-sorai. Perutnya di belah, diambil isinya dan dibagikan kepada penduduk untuk segera dimakan.
Dengan perut menganga dan hampir mati, tawanan dipapah menuju batu pancungan. Dalam satu kali ayunan parang, kepala tawanan harus putus. Kalau gagal, kepala sipemancung yang akan dipenggal. Itu sebabnya sipemancung harus berpengalaman dan parangnya harus tajam. Kepala tawanan dan daging dari mayatnya dicincang dan dimask dengan daging kerbau, lalu dihidangkan di atas meja eksekusi untuk disantap oleh Raja. Darahnya digunakan sebagai pencuci mulut, sedangkan tulang belulangnya dibuang ke danau Toba.
Eksekusi terakhir terjadi kira-kira tahun 1860, sebelum kedatangan misionaris Ingwer Ludwig Nommensen, yang berhasil memahami adat serta bahasa setempat., akhirnya merubah masyarakat Batak termasuk di Ambarita, menjadi penganut kristen yang taat dan menghapus ritual kanibalisme ini. Sebelumnya, misionaris lainnya selalu gagal dan justru berakhir di batu eksekusi. Untuk mengunjungi tempat ini kita dapat menggunakan penerbangan GARUDA INDONESIA sebanyak 49 kali dalam seminggu.

 

Medan City 

THE CITY OF FOOD LOVERS

Halal dan Nikmat.
Bagi pelancong Muslim, tak perlu khawatir. Di Sumatera Utara ini, warung babi panggang bisa berjualan persis di sebelah rumah makan yang menjual makanan-makanan halal. Pamandangan unik ini jelas terlihat di sepanjang Jalan Letjend. Jamin Ginting maupun wilayah lainnya.

Pusat Makanan Cina.
Biar bagaimana, masakan cina masih menjadi unggulan di berbagai kota di dunia, tak terkecuali di Medan. Apalagi sejak Kesawan Square turut memeriahkan ajang makanan di kota ini. Sudah dua tahun belakangan ini, setiap sore, Jalan Jend. A. Yani ditutup total dan dijadikan pusat jajanan dan cinderamata. Dengan meja-meja panjang dan kursi-kursi plastik beratap terpal warna Orange, dihiasi lampion-lampion khas Cina. Kawasan ini tampak hidup dan cantik menawan. Membentang sepanjang jalan tersebut, sampai jalan Balai Kota. Kesawan Square adalah tempat yang tepat untuk menghabiskan malam sambil menikmati beragam chinese Food yang lezat. Walau begitu, berbagai pilihan masakan Nusantara dan International juga tersedia, plus beberapa stall jajanan ringan, seperti lupis, manisan, terang bulan, apem dan sebagainya. Tak hanya itu, ada pula karoke gratis yang tersebar di 4 titik, menggunakan flat screen TV besar, seru banget!

Merdeka Walk.
Trotoar sepanjang jalan Balai kota kini berubah rupa menjadi area nongkrong kawula Muda, dengan kafe-kafe tenda putih dan stan-stan jajanan, dinaungi pohon besar dan rindang.Wisata Kuliner ini didukung juga oleh penerbangan GARUDA INDONESIA sebanyak 49 kali dalam seminggu.

Sumber informasi perjalanan / wisata ini dikutip dari MediaIndonesia.Com 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ppgkpimandala.blogsome.com/2008/04/04/smart-traveling-sumatera-utara/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer