Blog Forum Pemuda/I GKPI Mandala Medan

April 23, 2008

7 Pokok Dosa

Filed under: Artikel

7 Hal Pokok Dosa yang sering terjadi dan kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari dan semoga dapat menyadarkan diri kita sendiri untuk melakukan perubahan sikap dan mau melakukan pertobatan.

Dalam perjalanan hidup kita sekarang, manusia seringkali jatuh dalam 7 dosa pokok, kecenderungan akan yang jahat itu ada pada diri manusia karena dosa asal. Baca Roma 5:12. "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa".

Kita tidak mampu mengubah hidup kita sendiri. Kita membutuhkan rahmat Allah untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang bersumber dari 7 dosa pokok : kesombongan, iri hati, percabulan, kerakusan, kikir, kemarahan, kemalasan.

Keinginan daging mengkungkung kita ke dalam dosa dan ketidakpercayaan. Namun karena belaskasihan-Nya yang tak terbatas Allah mengirimkan Putera Tunggal-Nya ke dunia untuk mengubah kita. Melalui kematian dan kebangkitan, Yesus mencurahkan Roh Kudus agar kita dapat mengambil bagian dalam kodrat Ilahi.

Sekarang kita tidak perlu bersandar pada kekuatan sendiri karena kuasa Allah tinggal dalam diri kita. Singkatnya, untuk mengatasi daging, kita harus terus-menerus menyerah kepada Roh Kudus. Baca Yeremia 17:7-8. "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah".

1. KESOMBONGAN.
Ciri-ciri kesombongan:
* Manusia mengira mempunyai sesuatu yang baik dari dirinya sendiri, dari kemampuannya sendiri.
* Manusia mengira sesuatu kebaikan diberikan karena jasa-jasanya sendiri.
* Manusia berbangga-bangga mempunyai sesuatu yang sebetulnya tidak dimilikinya.
* Menganggap diri lebih unggul dan mempunyai lebih banyak daripada orang lain, mengira mempunyai bakat-bakat yang lebih daripada orang lain, sehingga menghina atau memandang rendah orang lain

Cara mengatasinya:
* Menyadari bahwa semuanya pemberian secara cuma-cuma dari Tuhan.
* Banyak mengucap syukur atas anugerah Tuhan.
* Jangan suka membicarakan kebaikan-kebaikan sendiri.
* Merenungkan kesengsaraan Tuhan dan pengosongan diri Allah.
* Penyembuhan batin, dan banyak memuji Allah (Luk 1:46-55)

Teks Kitab Suci:
* Yesaya 2:11: "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu".

2. IRI HATI.
Ciri-ciri orang yang iri hati:
* Tidak tahan kalau ada orang lain yang melebihi dia
* Tidak senang pada keberhasilan orang lain
* Senang bila melihat orang lain jatuh atau gagal.
* Menjatuhkan nama baik orang lain dan menjelekkan orang lain karena iri hatinya tersebut.

Cara mengatasinya:
* Menjauhi perkataan dan perbuatan yang meremehkan orang lain.
* Mengungkapkan cinta kasih secara praktis terhadap sesama yang membuat ia iri hati, dengan cara bersikap baik, menolong , berbicara ramah, dsb. (Theresia L.)
* Mencari sifat-sifat baik yang terdapat pada orang yang membuat iri hati, dan bersyukur kepada Tuhan
* Penyembuhan batin

Teks Kitab Suci:
* Yakobus 3:16: "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat".

3. PERCABULAN.
Ciri-ciri percabulan:
* Manusia dibutakan oleh nafsu seksnya, sehingga tenggelam di dalamnya, ia hampir-hampir tidak percaya bahwa ada kenikmatan dan kebahagiaan lain selain kenikmatan daging ini.
* Fantasinya dipenuhi oleh gambaran-gambaran yang tidak senonoh, akibatnya ia tidak mampu mengangkat hatinya kepada yang ilahi.
* Orang kehilangan kebebasannya sehingga diperbudak olehnya.
* Damai batinnya hilang sama sekali, dan sering dikejar rasa bersalah, tidak bisa menerima dirinya sendiri, bahkan jatuh dalam pergaulan bebas dan aborsi, homo/lesbi, dll. (BF)

Cara mengatasinya:
* Menjaga panca indera, menjauhkan diri dari godaan-godaan yang merangsang, gambar, film, dll.
* Penyembuhan batin.
* Firman Allah, doa, lingkungan yang sehat, pelayanan.

Teks Kitab Suci:
* Mengenai Tubuh Kita adalah Bait Allah.
1 Kor 3:16. "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?".
1 Kor 6:15. "Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!".
1 Kor 6:19. "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?".

* Mengenai Perlengkapan Rohani.
Efesus 6:10. "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya".
Efesus 6:11. "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis".
Efesus 6:12. "Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara".
Efesus 6:13. "Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu".
Efesus 6:14. "Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan".
Efesus 6:15. "Kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera".
Efesus 6:16. "Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat".
Efesus 6:17. "Dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah".
Efesus 6:18. "Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.
Efesus 6:19. "Juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil".
Efesus 6:20. "Yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara".

4. KERAKUSAN, TAMAK, LOBA, GELOJOH.
Ciri-ciri orang rakus:
* Ia diperbudak oleh keinginan untuk memiliki harta, dan kekayaan sehingga mengabaikan semua segi kehidupannya, menghalalkan segala cara, ia menghargai harta melebihi Tuhan dan manusia, menjadikan harta sebagai berhalanya.
* Ia diperbudak oleh keinginan untuk makan dan minum melebihi segalanya, sehingga mengabaikan cinta kasih dan kesopanan terhadap sesama manusia.
* Ia diperbudak oleh nafsu ingin memperoleh pengetahuan melebihi segala sesuatu, mengejar ilmu sampai melupakan Tuhan dan sesama.

Cara mengatasinya:
* Dengan cara penyangkalan diri akan makan, minum, kerja, belajar, mengatur waktu secara seimbang, dan hidup dengan teratur.
* Penyembuhan batin, dan mengingat kehidupan abadi, bahwa yang terpenting itu adalah kehidupan jiwanya yang kekal, jangan sampai kebutuhan sandang, papan, yang sementara sifatnya memperbudak dirinya.

Teks Kitab Suci:
* Mengenai Hawa Nafsu.
Yakobus 4:1. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?".

* Mengenai Foya-foya.
Yakobus 5:5. "Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan".

* Mengenai Akar Kejahatan, Cinta Uang.
1Timotius 6:10. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka".

* Mengenai Hamba Uang.
Ibrani 13:5. "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau".

5. KIKIR.

Orang yang rakus akan harta, makan-minum, dan ilmu pengetahuan dapat dibutakan sedemikian rupa sehingga ia tidak peduli lagi akan kebutuhan sesamanya. Ia dapat jatuh dalam dosa kikir, karena menumpuk harta demi harta, tidak mau berbagi, berderma atau menolong sesama yang berkekurangan, ia menikmati makan minum tanpa peduli sesamanya yang kelaparan, ia juga tidak mau berbagi soal ilmu pengetahuan dan hanya mau pandai sendiri.

Cara mengatasinya:
* Jangan pernah rakus dengan jabatan dan harta sehingga kita bisa mencegah kolusi, korupsi dan nepotisme.
* Berbagilah kepada sesama yang membutuhkan pertolongan dan berdermalah dengan sesama karena harta tidak dapat kita bawa mati.
* Saling berbagilah tentang ilmu pengetahuan terhadap sesama agar kita dapat bijaksana dan cerdas dalam menjalani hidup karena ilmu pengetahuan akan mati jika kita bawa mati.

Teks Kitab Suci:
* Amsal 1:7. "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan".

6. KEMARAHAN.
Ciri-ciri pemarah:
* Cepat emosi, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun
* Mengungkapkan emosi dengan perkataan atau perbuatan yang menyakiti hati orang lain tanpa pikir panjang

Cara mengatasinya:
* Yang bersifat jasmani: olah raga, menyanyi lagu pujian, mengalihkan kemarahan pada hal-hal yang positif
* Yang bersifat rohani: mengampuni, mendoakan orang-orang yang membuat marah, melihat kehadiran Tuhan dalam diri sesama.
* Penyembuhan batin

Teks Kitab Suci:
* Perihal agar kita tidak lekas marah dan emosi.
Pengkhotbah 7:9. "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh".

* Perihal mengenai amarah tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Yakobus 1:19. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah".
Yakobus 1:20. "Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah".

7. KEMALASAN.
Ciri-ciri kemalasan:
* Suka menganggur
* Suka melalaikan tugasnya
* Bersikap sembrono dan tidak bertanggung jawab
* Tidak menyelesaikan tugas/pekerjaan pada waktunya.
* Tidak ada kerapian dan kebersihan
* Mencari istirahat melampaui batas
* Menunda-nunda tugas, tidak disiplin

Cara mengatasinya:
* Menyangkal diri
* Hidup teratur dan disiplin
* Memberi motivasi pada tugas/pekerjaan yang dilakukan, misalnya untuk silih dosa, melakukan demi kasih kepada Yesus
* Penyembuhan batin.

Teks Kitab Suci:
* Amsal 26:14. "Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya".
* Amsal 21:25. "Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja".

Kita tidak mampu mengubah hidup kita dengan kekuatan sendiri maka kita perlu menyerah kepada Roh Kudus. Cara-cara yang kita lakukan agar menyerah kepada Roh Kudus dengan cara:

1. Menjadikan Yesus sebagai pusat hidup dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dalam setiap segi kehidupan kita sehari-hari.
* Dengan cara berdoa kepada Tuhan kita Yesus Kristus.
* Baca Firman / Kitab Suci setiap hari.
* Dan bertobat untuk tidak melakukan hal-hal jahat lagi.

2. Beriman.
* Berjuang terus tanpa putus asa serta membiarkan Tuhan yang mengubah hidup kita.

3. Bersukacita dalam segala keadaan. Percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Bersuka cita, berdoa senantiasa, mengucap syukur dalam segala perkara.

* 1 Tesalonika 5:16. "Bersukacitalah senantiasa".
* 1 Tesalonika 5:17. "Tetaplah berdoa".
* 1 Tesalonika 5:18. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu".

4. Melihat masalah sebagai salib.
* Melihat masalah sebagai salib, sebagai sarana untuk memurnikan kita, memperkuat dan membentuk kita menurut citra Kristus Yesus sendiri. Kita sedang dibentuk oleh Allah menjadi lebih indah.
* Karena Yesus Kristus sendiri telah mati di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia agar manusia itu sendiri terselamatkan oleh Yesus Kristus dari dosa-dosanya.
* Karena Yesus Kristus sendiri telah menang melawan kuasa gelap dan mengalahkan si jahat serta mengalahkan kematian.

5. Menyingkirkan kepahitan.

Mengampuni, berdamai, mencintai semua orang yang melukai kita, mengampuni dan sabar terhadap kelemahan diri sendiri dan ingat bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar daripada dosa yang telah kita buat sendiri.

6. Bergabung dalam suatu komunitas kristiani.

Kita dapat berbagi suka duka lewat saudara-saudara seiman yang dapat mendengarkan serta sharing dengan kita, sehingga kita mengalami peneguhan, dikuatkan dalam iman oleh saudara-saudara yang lain, dapat membagi pengalaman, melayani dan saling mencintai dalam komunitas kristiani, dan dari situ kita dapat bertumbuh menjadi seorang Kristen yang sejati dan takut akan Tuhan.

7. Cinta diri adalah akar segala dosa.

Cinta diri adalah halangan terbesar untuk kesempurnaan. Setan masuk lewat pintu cinta diri. Perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri adalah perjuangan seumur hidup. Orang dapat merasa putus asa bila dalam perjuangan ia tidak sabar terhadap diri sendiri, mau kudus dalam waktu singkat, orang tidak dapat menjadi sempurna hanya dalam waktu satu minggu, satu bulan, satu tahun, tetapi butuh proses seumur hidup. Sebaliknya ada orang yang terlalu gampang untuk memaafkan diri/lambat untuk berjuang, maka perlu dicambuk agar jalannya cepat.

Sarana untuk mengatasi cinta diri yaitu:
* Penyangkalan diri.
* Kelepasan.
* Pengosongan diri.
* Agere contra yaitu: melepaskan diri dari kelekatan akan makan, minum, nama baik, kesenangan, gengsi, harga diri.

Contoh yang dapat kita lakukan:
* Tidak senang dengan si A, maka duduklah dekat dengan si A.
* Maunya istirahat saja, hindari dengan cara bekerjalah dengan lebih rajin.
* Malas doa, hindari dengan cara menambah jam doa.
* Mau marah saja terhadap si A, hindari dengan cara tersenyum kepada si A.
* Ambil makanan dan minuman yang tidak disukai tapi bersifat positif.
* Melakukan pekerjaan yang tidak disukai, yang remeh, yang dihindari orang, dll.

Dalam latihan kebajikan dan kelepasan itulah manusia dapat jatuh dalam kesombongan rohani, merasa diri hebat, merasa diri lebih dari yang lain, merasa diri suci. Akar-akarnya lagi-lagi cinta diri. Maka ada baiknya merenungkan apa yang dikatakan dalam Kitab Suci : Setelah melakukan segala sesuatu, berkata kepada-Nya: Tuhan, aku ini hamba yang tidak berguna, aku akan mau melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Manusia menerima segalanya dari Allah, tidak ada satupun yang dapat dibanggakan, karena semuanya pemberian Allah. St. Paulus mengatakan: "Hai manusia, apakah yang ada padamu yang tidak kamu terima dari Allah, dan setelah engkau menerimanya, mengapa engkau menganggap itu semua milikmu, seolah-olah kamu tidak menerima semua itu dari Dia" (sombong, cinta diri).

Ilustrasi:

Banyak sekali manusia memakai topeng, serta tidak melakukan perbuatannya untuk memuliakan Allah tetapi untuk kemuliaan diri manusia itu sendiri.

Contoh :
* Jambu air. Jambu air kelihatannya bagus, tetapi dalamnya penuh ulat cinta diri. Ulat cinta diri itu harus dibasmi supaya jangan menjadi gemuk dan merajalela didalam jambu air tersebut.
* Kita ini keledai tunggangan Tuhan kita Yesus Kristus, kalau keledai lupa akan ke-keledai-annya, dan mengira dia yang mendapat kehormatan dari Tuhan kita Yesus Kristus, pasti keledai itu akan kena pukul oleh tuannya.

Ada pula yang berbuat sebaliknya. Takut dikatakan sombong, lalu tidak mau melakukan hal-hal yang baik, takut melakukan kebajikan / matiraga, malas berbuat kebajikan. Ini juga merupakan sesuatu ekstrim yang lain. Bangunan rohani diri kita atau hidup rohani diri kita sendiri membutuhkan fondasi kerendahan hati. Bangunan rohani akan hancur berantakan bila tidak ada fondasi kerendahan hati. Iblis selalu menghalang-halangi orang yang mau berkembang dalam kesucian. Godaan-godaan harus dikenali, inilah pentingnya pembedaan roh dalam hidup rohani. Godaan harus ditolak dengan tegas. Sekali terjerat dalam godaan, kita akan jatuh dalam dosa. Iblis masuk lewat celah cinta diri dan kesombongan. Perbuatan baik, seringkali dinodai oleh cinta diri, maka bukan lagi kebajikan namun kesombongan.

Doa, pelayanan, kebajikan, matiraga itu baik, tapi kalau kemasukan cinta diri dan kesombongan maka bukan kebajikan lagi, tetapi kelemahan. Tuhan menerima persembahan umat-Nya. Tuhan menerima persembahan kita, ia menerima kita tanpa syarat. Kita datang dengan sikap seperti seorang miskin: "Tuhan saya datang, tetapi tidak mempunyai apa-apa, dan persembahan yang ku persembahkan kepada-Mu ini adalah buah-buahan yang penuh dengan ulat cinta diri". Itu kita semata-mata untuk menyenangkan hati Allah. Seperti anak kecil yang membawa kue untuk diberikan kepada ibunya, tetapi kue itu jatuh di tengah jalan dan menjadi kotor. Seperti itulah kita saat ini. Sering kali melakukan ini dan itu untuk menyenangkan hati Tuhan, tetapi tersandung oleh cinta diri sehingga menjadi kotor. Si ibu tetap mau menerima kue yang kotor itu dari anaknya karena si anak tidak dapat memberikan yang lainnya. Demikian pula kita, Tuhan menerima persembahan kita yang diberikan dengan cinta walaupun tidak sempurna. Tuhan melihat niat kita, kemauan baik kita dan kehendak kita walaupun jauh dari hasil yang sempurna.

Topeng-topeng cinta diri adalah:
1. Cinta diri dapat menyamar dalam banyak hal kebajikan-kebajikan sehingga orang dengan gampang mudah tertipu.
Contoh:
* Orang getol dalam karya kerasulan untuk orang lain. Setelah ganti pengurus, tidak mau membantu. Motivasinya hanya mencari nama dan jabatan.
* Ada orang yang dermawan sekali terhadap orang lain, tetapi terhadap anak dan istri pelitnya minta ampun. Motivasinya hanya supaya dapat pujian dan diagung-agungkan oleh orang lain.

2. Cinta diri identik dengan kodrat kita, digerakkan oleh motif kodrati dan bukan adikodrati.
Contoh:
* Ada orang yang sangat bersemangat merasul, mau menonjol apabila ada orang lain / baru yang tampil maka muncul rasa tidak senang dalam hatinya, karena bintangnya pudar.
* Tidak senang kalau orang lain berkembang. Akarnya adalah sifat iri hati.
* Keras kepala dianggap sebagai kebajikan berpendirian teguh dan ini merupakan suatu kesalahan yang sangat besar.
* Kemalasan : malas bekerja dan melakukan sesuatu dengan berkata / beralasan menjaga kesehatan, nanti kalau lelah tidak bisa berdoa lagi.
* Malas bangun pagi dengan alasan sakit.
* Malas cuci pakaian dengan alasan mengirit sabun, tanggan sakit, dan lain-lain.
* Lebih suka mengajar, menasehati daripada diajar atau dinasehati.
* Tidak mau belajar dari orang lain, tidak mau mengakui / menghargai kelebihan orang lain. Belajar dari orang lain itu mengandaikan kerendahan hati.

——-

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Tuhan kita Yesus Kristus memberkati dan melindungi kita selalu dimanapun kita berada. Amin.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ppgkpimandala.blogsome.com/2008/04/23/7-pokok-dosa/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer