Blog Forum Pemuda/I GKPI Mandala Medan

March 4, 2008

Saat Patah Semangat

Sebelumnya perkenalkan nama saya Dona, saya berkecimpung di pelayanan anak sejak tahun 1992. Tahun-tahun awal di mana saya mengajar adalah anak umur batita/bawah 3 tahun (Toddler). Sekitar satu tahun pertama, terus terang saya sempat putus harapan karena apa yang saya ajarkan pada anak didik saya rasanya kok tidak membawa hasil. Maksudnya di sini adalah pada saat saya menyampaikan firman Tuhan mereka hanya duduk diam dengan manis tanpa ada ekspresinya (seperti bengong saja). Proses belajar mengajar hanya terjadi secara monolog saja. Saya sempat berpikir apa cara saya mengajar yang salah atau memang mereka tidak mengerti sama sekali karena masih terlalu kecil atau bagaimana, dan terus terang hal ini membuat saya jadi agak patah semangat sampai-sampai sempat terlintas dalam benak saya untuk berhenti sebagai guru SM, karena saya merasa ini bukan panggilan saya. Sampai pada hari di mana saya memutuskan untuk benar-benar berhenti dari pelayanan anak, saya bertemu dengan salah seorang ibu yang anaknya adalah salah satu murid SM saya. Beliau bercerita bahwa anaknya yang masih kecil, pada saat itu masih berumur 2 tahun, bisa cerita mengenai firman Tuhan, bahkan menyanyi lagu-lagu SM yang selama ini diajarkan. Beliau mengucapkan terima kasih atas apa yang telah saya lakukan. Saya mendengarnya sampai terbengong-bengong karena tidak percaya. Dalam hati saya berkata: "Ini tidak mungkin!!" berulang kali sampai akhirnya saya diingatkan, jangan pernah putus asa! Teruskan pelayananmu, jangan pernah berhenti! Firman Tuhan yang menguatkan saya, sehingga sampai saat ini saya masih mendapat kehormatan untuk melayani Dia. ~ Dona S. Leon

Sebuah Nostalgia Seorang Ibu Tahun 1958

Aku memang bukan penganut Nasrani, tapi anak laki-laki bawaan suamiku dia penganut agama Kristen. Karto sekalipun masih kecil tapi kata-katanya sering membuatku terheran-heran.

Aku memang gadis desa yang menikah dengan suamiku dengan komitmen aku harus menerima Karto sebagai anakku. Karto adalah anak suamiku dengan istri pertamanya Rebeca, yang meninggal sudah meninggal tiga bulan  setelah melahirkan Karto. Setelah enam tahun Karto tinggal bersamaku, adik almarhum Rebeca dari surabaya datang dan mengambil dengan alasan aku sendiri punya anak kecil dan karto sudah bisa masuk kelas 1 SD. Aku tidak kuasa menahannya karena kenyataan aku sudah punya anak dua dan saat itu sedang hamil tua. Padahal selama enam tahun Karto pun silih berganti dijemput saudara kandung Rebeca ke bandung dan surabaya.

Setiap menjelang akhir tahun suamiku selalu menjemput Karto untuk dibawa ke yogyakarta untuk liburan sekaligus menengok adik-adiknya. Sejak kecil Karto selalu bercerita tentang Tuhan Yesus, maklum memang keluarga besar almarhum Rebeca ibunya Karto memang beragama kristen, mereka berasal dari Manado.

Sampai saat karto berumur tiga belas tahun, waktu itu dia duduk dikelas 1 SMP Surabaya. Karto datang di bulan Desember seijin suamiku dia mau mencari pohon cemara untuk membuat pohon terang Ningsih, Kartini, Santosa Nunung dan Nungrum anakku, seolah sangat gembira mendengar karto mau membuat perayaan Natal, merekapun diajak untuk membantu.

Sungguh heran bahwa anaku menyambut rencana itu dengan semangat. Karto sendiri datang kepadaku sambil bilang : "Bu kalu punya uang bikin kacang bawang dan kue ya, kita rayakan natalan bersama tanggal 25 desember malam. Nanti aku yang akan cerita dari buku Alkitab ini, ya bu ya." Karto bercerita sambil menunjukkan Alkitab bergambar versi anak-anak yang dibawa dari surabaya.

Sekalipun bukan anak kandungku tapi karto memang sudah saya rasakan seperti anak kandung. Begitu juga adik-adiknya. Tak ada yang tahu kalau karti bukanlah anak sekandung. Mereka sangat bangga kalau karto kakaknya datang liburan dari surabaya.

Seolah magnit yang begitu besar, kata-kata Kartopun aku sambut dengan gembira. Dua ayam pelugaraan aku potong, aku masak ayam goreng, sup, sambal goreng, kacang bawang dan beberapa makanan aku siapkan persis saudara-saudara umat muslim merayakan lebaran.
Sebelum hari H Karto mengajari adiknya lagu-lagu rohani, aku mendengarnya dari dapur. Jujur saja aku merasakan kebahagiaan yang begitu dalam, walaupun aku tidak rahi kebahagiaan apakah ini yang aku rasakan. Memang makin besar Karto seperti penerang didalam keluarga, kata-katanya sering membuat aku terperangah dan heran seperti suatu hari Karto bercerita : Di Surabaya di usia 9 tahun Karto di baptis dia bertanya kapan adik-adiknya dibaptis? "Baptiskan tanda dosa kita sudah ditebus bu."

Aku peluk karto erat-erat dalam hati aku berkata, Tuhan aku tidak tahu banyak soal agama kristen tapi Karto, kau kirim agar aku dan seisi rumahku mengenalnya.

Tanggal 25 Desember sejak siang hari Karto sebuk menyambung cabang-cabang pohon daun cemara, bagian pangkalnya ditancapkan di pot bunga yang kosong, di ganjal dengan batu. Ningsih dan kartini menggunting karton-karton bekas diberi kertas emas dibuat bentuk bermacam-macam model bintang. Ada yang besar ada yang kecil, lilin yang panjang dipotong pendek-pendek diikatkan pada pohon cemara sebagai pengganti lampu.

Ketika aku ke ruang tengah kulihat Santoso sedang mengatur kursi berbentung melingkar. Santoso menengok kearahku sambil bilang disuruh mas Karto buat natalan nanti malam. Kulihat bangga sekali dia mendapat tugas itu.

Suamiku pulang dari kantor jam dua siang, melihat kegiatan diruma dia cuma senyum-senyum. Mungkin dia ingin membahagiakan Karto itu yang aku tangkap dalam benakku. Sore harinya Karti menyuruh adik-diknya mandi dan berganti baju yang bagus. Karto sendiri kulihat memakai celana panjang dan hem putih lengan panjang, sambil bersiul-siul dia masuk ke kamarku bilang "bu aku pinjam dasi bapak ya". Aku mengambilnya dan memasangkan sebisanya "sini biar aku yang memasang" tiba-tiba suamiku muncul di balik pintu. Tangan suamiku terampil sekali menyilangkan dan menalikan dasi.

Jam tujuh malam Karto mengajak adik-adiknya duduk melingkar, lilin lilin kecil diatas pohon cemara didepan sebelah kiri dihidupkan, suasana semarak tiba-tiba muncul. Aku merasakan suasana yang sangat berbeda. Nunung yang masih tiga tahun pun diangkat dan disuruh duduk sendiri, Cuma Ningrum yang dipangku. Aku dan suamiku duduk disudut ruang. Seperti seorang pendeta Karto yang masih berusia 13 tahun berdiri dibelakang sebuah meja kecil menghadap kearahku. Sebuah Alkitab dan lilin besar ditaruh diatas meja. Kebaktianpun dimulai dengan berdoa dan bernyanyi "Slamat-slamat datang Yesus Tuhanku, yang turun dari surga yang rumahmu…."

Karto memimpin kebaktian malam itu benar-benar ia seperti malaikat kecil, sebentar-sebentar dia memperhatikan adiknya.. bahkan ketika Nunung menangis, dengan tenang Karto mengambil dot susunya, "nah boleh kok sambil ngedot, tapi jangan nakal ya"

Ditengah kebaktian Karto memimpin lagu natal "Malam Kudus" saat itu Karto menghampiriku sambul berbisik "Ibu yang menyalakan lilin untuk anak-anak dan bapak yang menyalakan lilin besar ditengah meja." Aku dan suamiku melakukan dengan sukacita.

Setelah acara kebaktian selesai, dan doa makan telah dilakukan Karto berdiri di tengah tengah ruangan mengambil Alkitab sambil berkata bapak,ibu, adik-adik, Setiap tahun dibulan Desember kita akan merayakan natal seperti ini. "Hore,hore", anak-anakku yang lain menyambut dengan kegirangan.

Inilah pengalaman pertamaku merayakan natal. Saat itulah aku menyadari , karto memang bukan anak kandungku, tapi harus kuakui aku, suamiku, dan anak-nakku , sangat bahagia ketika firman Tuhan dibawakan Karto.

Tak pernah kurencanakan aku dan keluargaku menjadi orang kristen tapi sekarang aku makin yakin bukan aku yang memilih Tuhan Yesus tapi Tuhan Yesuslah yang memilih aku dan keluargaku untuk diselamatkan.

Sebuah nostalgia seorang ibu di tahun 1958
Oktober 2005 - Sahaneosa

Dari Gereja Setan Menjadi Pengikut Tuhan

Flora adalah seorang gadis pendiam yang mendaftar di sekolah lanjutan Advent di Manado Indonesia bagian timur. Flora tidak banyak bicara dengan teman-temannya sesama siswa bahkan dengan guru-gurunya. Jadi tidak ada orang yang banyak tahu tentang dia. Mereka duga dia datang dari keluarga non-Advent, dan karena banyak siswa yang datang dari keluarga non-Advent, jadi tak ada orang terlalu banyak memikirkannya.

Flora membaur di dalam kelas-kelas dan kegiatan-kegiatan sekolah, tetapi tampaknya dia tidak bergairah mengenai agama.

Penyataan yang Mengagetkan

Setelah beberapa bulan sekolah berjalan diadakanlah Pekan Doa 10 hari. Pendeta yang memimpin Pekan Doa itu menggunakan waktu berjam-jam untuk memberi nasihat dan bimbingan rohani kepada para siswa. Pada suatu hari pendeta itu melihat nama Flora tertera di dalam daftar para siswa yang ingin menemuinya. Setelah dia tiba, dia memberikan banyak pertanyaan tentang apa yang diajarkan Alkitab dan gereja. Esoknya dia datang lagi dan memberikan pertanyaan yang lebih banyak. Kemudian pada hari Jumat dia datang lagi ke kantor, kali ini dengan penyataan yang mengejutkan, "Saya datang ke sekolah ini bukan untuk memperoleh pendidikan Kristen, " katanya memulai. "Saya dikirim ke sini untuk membagikan kepercayaan saya kepada para siswa dan berupaya untuk mempertobatkan mereka kepada agama saya."

Flora menyatakan bahwa dia dan keluarganya adalah anggota sebuah gereja yang menyembah Setan. Para pemimpin agamanya telah mengutus dia sebagai seorang misionaris rahasia, seorang mata-mata, untuk membawa orang-orang kepada Setan. Tetapi dia perhatikan ada suatu hal yang lain di dalam diri para siswa di sekolah ini, dan dia sadar itulah agama yang mengasingkan mereka. Jadi ganti membagikan imannya kepada para siswa dan guru itu, dia mulai memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang dipercayai orang-orang Advent.

"Sekarang saya sadar bahwa selama dua tahun saya telah menjadi seorang tawanan gereja Setan, tetapi sekarang saya ingin mengikut Yesus," katanya. Tetapi ketika pendeta bertanya apakah dia bersedia untuk baptisan, dia menggelengkan kepala. "Saya tidak mau dibaptiskan!" sahutnya hampir berteriak. "Dua tahun yang lalu saya diharapkan akan dibaptiskan di sebuah gereja Protestan, tetapi ketika pendeta dan saya masuk ke dalam air, seluruh tubuh kami berdua penyakitan. Ini membuat pendeta takut, dan dia tidak membaptiskan saya. Segera setelah keluar dari air penyakit itu meninggalkan kami. Saya tahu Setanlah yang melakukan ini jadi saya tidak memasuki gereja ini.

"Saya datang ke sekolah ini bukan unuk memperoleh gelar, tetapi mempengaruhi para siswa dan guru untuk memasuki gereja Setan. Tetapi upaya itu tidak berhasil. Ganti mempertobatkan mereka, malah saya yang ditobatkan. Sekarang saya percaya, dan saya ingin mengikut Yesus. Tetapi saya masih takut untuk dibaptiskan. Saya takut kepada Setan."

Percayailah Dia

Pendeta mendorong semangat Flora. "Engkau tak perlu takut kepada Setan," katanya. "Setanlah yang takut kepada kita." Mereka berdoa bersama-sama. Pesan pendeta pada panggilan terakhir agar dengan iman dia tampil ke depan menyerahkan diri kepada Tuhan. Flora meninggalkan kantor pendeta dan kembali ke kelasnya. Tiba-tiba dia menjadi sakit dan memuntahkan darah. Setan coba menakut-nakutinya. Dia kembali ke kantor pendeta di mana pendeta mendoakannya dan muntahnya berhenti.

Ketika panggilan diadakan pada malam itu, beberapa siswa datang ke depan untuk berdiri bagi Kristus. Flora menangis, berdoa, dan bergumul untuk melangkahkan kakinya menuju ke podium.

Pada hari Sabat pagi semua orang di sekolah itu tahu tentang masa lalu Flora yang dikuasai Setan. Setelah acara baptisan tiba, para siswa berbaris di sepanjang tepi kolam renang. Flora ikut dengan mereka, menangis dan gemetar.

Pendeta meyakinkannya bahwa Tuhan akan menemplak Setan dan membawa kemuliaan kepada nama-Nya. Dengan gemetar Flora masuk ke air untuk dibaptiskan.

Ketika mereka keluar dari air, pendeta melihat lengannya. Tidak ada penyakit. Tetapi ketika Flora melihat lengannya, dia kaget dan berteriak, "Pendeta, apa ini?" Dia tunjukkan lengannya dan setiap orang melihat. Ada angka merah yang menyala-nyala dengan nomor 666. Segera pendeta mendoakan Flora, dan dengan iman dia janjikan kepada Flora bahwa tanda itu akan segera hilang. Kemudian pendeta melanjutkan baptisan.

Sesudah acara baptisan, para siswa berkumpul mengelilingi Flora untuk melihat tanda yang di lengannya. Tampaknya tanda itu menyakitkan, tetapi Flora katakan bahwa dia tidak merasa apa-apa. Beberapa jam kemudian tanda itu menghilang.

Pengucilan

Orangtua Flora mengetahui baptisannya. Mereka marah dan memaksanya menarik diri dari sekolah Advent. Kemudian keluarga itu pindah ke kota lain, jauh dari teman-teman Kristennya. Tetapi sebelum pergi dia berjanji kepada guru-gurunya di sekolah, "Jangan berhenti mendoakan saya. Saya akan setia kepada Tuhan. Saya percaya kepada kebenaran ini dan saya tidak mau pergi."

Orangtua Flora tidak mengizinkannya pergi ke gereja Advent di kota itu dan pendeta Advent tidak boleh mencari tempat untuk Flora di sana. Tetapi kata-katanya terus mengiang di telinga mereka yang mengenal Flora. "Saya datang ke sekolah ini untuk mempertobatkan para guru dan siswa agar menyembah Setan. Tetapi sebaliknya saya sudah ditobatkan untuk menyembah Allah. Saya percaya Allah lebih berkuasa daripada Setan, dan saya ingin mengikut dia sepanjang hidup saya. Tolong, jangan lupa mendoakan saya."

Kesaksian ini ditulis oleh Noldy Sakul, sekretaris Uni Indonesia Kawasan Timur yang berlokasi di Manado, Sulawesi, Indonesia

Berkat Doa Istri

Sungguh tragis hidup Benny. Dia yang tengah membantu usaha ayahnya sebagai salah satu rekanan di sebuah instansi, harus melakukan perbuatan yang sangat menjijikkan. Dia dan ayahnya harus bisa menghibur pejabat-pejabat setempat agar perusahaan mereka bisa mendapatkan banyak pesanan. Salah satunya adalah dengan membawa mereka ke tempat pelacuran.

Ayahnya juga masuk dan menyuruh dia untuk ikut. Untuk pertama kalinya, Benny ikut merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Penyesalan tampak jelas pada wajah Benny saat keperjakaannya hilang. Sebuah pengakuan akan dilakukan di hadapan Winnie, sang pacar. Hati Winnie kecewa karena keperjakaan Benny diberikan kepada wanita lain, bukan pada dirinya, padahal dia juga bisa memberikan keperawanannya untuk Benny. Beberapa hari kemudian, akibat mereka berhubungan seks, Winnie hamil. Pernikahan di usia muda pun harus mereka jalani, walaupun orang tua dari pihak pria sempat tidak merestui.

Sekilas kehidupan mereka tampak bahagia. Namun semua itu hanya bertahan selama 4 tahun, dan harus berakhir ketika nilai-nilai suci dalam pernikahan mulai dinodai. Waktu itu Benny salah bergaul dengan seorang teman yang memang hobinya pergi ke tempat-tempat pelacuran. Dan Benny melakukan lagi apa yang dulu pernah ia komitmen untuk tidak melakukannya.

Winnie: Kadang saya terima telpon dari wanita yang mengatakan, "Bu, saya pinjem yah suaminya…" Pertama kali saya nggak terima. Kok katanya membantu orang tua tapi pekerjaannya melakukan hal-hal yang tidak benar… Pada saat Winnie tau, dia langsung marah besar pada Benny. Karena Benny tidak mau mengakui perbuatannya, Winnie marah dan membanting botol.

Winnie: Hati saya terbakar, sakit sekali, tapi saya berjanji, kalau suami saya mau jujur, saya nggak akan marah.

Maka setiap kali Benny pulang dari tempat pelacuran, dia pasti bercerita pada istrinya. Karena dia berpikir bahwa ini bukanlah hal yang harus disembunyikan. Bahkan mama mertua Winnie mendukung perbuatan anaknya yang tidak benar itu.

Winnie: Saya sudah pasrah, terserah hidupnya mau seperti apa. Nggak pulang juga nggak apa-apa, terserah. Saya sudah siap, saya sudah nggak tahan, saya sudah berpikir bahwa bercerai adalah jalan yang terbaik.

Setiap malam, Winnie merebus air untuk mencuci pakaian dalam suaminya. Dia juga memisahkan pakaian suaminya dari pakaian-pakaian yang lain karena dia takut terkena penyakit kotor. Winnie menjadi jijik, dan dia menjadi mati rasa terhadap suaminya sendiri. Sampai-sampai Winnie berdoa meminta kepada Tuhan kalau bisa tidak ada yang namanya malam, supaya dia tidak usah tidur dengan orang yang telah menyakiti hatinya. Tidak ada lagi cinta yang dirasakan Winnie pada suaminya, hubungan suami istri sempat tidak dilakukannya lagi untuk sesaat. Benny juga terkena penyakit kelamin yang tidak umum, dan Winnie pun jadi ikut merasakan penderitaan suaminya. Winnie tertular penyakit yang menyebabkan gatal-gatal di seluruh kemaluannya.

Suatu ketika saat hasrat seks Benny sedang tiba, dia mendapatkan penolakan dari istrinya. Merasa keinginannya tidak terpenuhi, amarahnya memuncak. Benny keluar kamar dan mengambil obeng, dia menusuk-nusukkan obeng itu pada kasur dan bantal sampai hancur, dan baru berhenti setelah Winnie meminta maaf padanya. Ketika hasrat seksnya tidak terpenuhi, Benny menjadi liar dan tidak terkendali. Dengan berjalannya waktu, pengobatan yang mereka lakukan terhadap penyakit kelamin itu akhirnya membuahkan hasil.

Benny : Tahun 1987 saya membuka usaha salon dirumah, karena saya adalah seorang yang perfeksionis, segala sesuatu saya mau berjalan seperti yang saya mau. Saat itu saya tatar istri saya dan beberapa anak buah, karena saat itu saya sudah lebih dulu belajar salon, istri saya sangat tertekan karena dia memang tidak suka kerja yang berhubungan dengan salon, saya benar-benar tidak mau menerima keberatan dia, yang ada dikepala saya adalah kalau saya sudah memutuskan semua harus turut serta, istri saya menyimpan kepahitan dengan saya. Disamping itu saya juga mau segala sesuatunya berjalan sesuai dengan keinginan saya. Pernah suatu hari istri dan beberapa karyawan tidak ada yang sungguh-sungguh latihan untuk menyalon, mereka nonton TV, langsung saya ambil cat biru dan saya cat TV tersebut, istri saya benci minta ampun tetapi tidak bisa berkutik, mereka pada akhirnya tidak bisa nonton TV sampai 3 bulan.

Seolah belum cukup, Benny selalu menjelek-jelekkan Winnie di depan para pelanggan salonnya, pernah juga dia dibanding-bandingkan dengan pembantu. Benny sering mengatakan kalau Winnie tidak bisa apa-apa dan tidak berguna. Rasa kecewa dan sakit hatipun semakin bertambah dalam diri Winnie. Ketika Benny sedang bertengkar dengan Winnie dan ingin memukulnya, sang anak yang sempat melihat mamanya hendak dipukul menjadi marah dan mengambil kursi, hendak memukulkan kursi itu ke Benny. Benny pun mengambil bekas knalpot motor dan mereka saling memukul. Winnie dan pembantu berusaha melerai, tapi Benny kemudian mengambil air kencing yang sudah ditampung selama seminggu dan menyiramkannya kepada anaknya. Saat itu anaknya kepahitan dengan Benny dan pergi mengungsi ke rumah neneknya.

Benny yang saat itu tengah mengalami kesulitan keuangan meminta istriya untuk meminjam uang, namun Winnie tidak menanggapinya. Benny marah, sementara Winnie hanya bergumam, "Sudah tahu susah, kenapa tanya sama saya?". Benny yang mendengar gumaman Winnie langsung mengamuk. Lalu malam itu Benny mengambil keputusan, dia berkata kepada Winnie bahwa ini adalah terakhir kalinya, mereka harus bercerai, tidak ada jalan lain. Benny berkata, "Istri harusnya tunduk pada suami, tapi ini suami kesusahan istri tidak mau menolong, istri macam apa yang tidak tunduk pada suami…" Winnie menimpali bahwa dia sudah sangat siap bercerai, daripada dia menderita terus.

Winnie: Saya ke kolong meja. Kolong meja itu tempat saya setiap hari mengadu dan menangis pada Tuhan, tempat saya menceritakan pada Tuhan setiap sakit hati yang saya rasakan karena perbuatan suami saya… Sejak dia memukul saya… Memori saya sudah penuh… Sampai saya pernah bilang, Tuhan, jemput saya, saya sudah tidak kuat… saya mau pulang ke rumah Bapa… Saya sudah nggak kuat hidup dengan dia… karena saya pikir saya sudah tidak ada harapan lagi.

Tidak terhitung lagi berapa banyak kata-kata cercaan yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Bahkan amarah Winnie tidak bisa dibendung lagi, ketika barang kesayangannya dirusak. Benny mengambil alkitab Winnie dan merobek-robeknya di hadapan istrinya. Hati Winnie bagai terbakar, dia marah dan semakin dendam pada Benny. Winnie menangis sambil mengumpulkan  sobekan-sobekan alkitab itu. Winnie yang larut dalam kesedihan akhirnya kabur dari rumah untuk pergi ke rumah mamanya. Namun tiga hari kemudian dia kembali ketika Benny memintanya untuk pulang. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk mengatasi konflik rumah tangganya, kecuali berdoa.

Winnie: Tuhan kuatkan saya… saya ingat dan saya percaya, Tuhan bilang, kalau satu orang diselamatkan, maka seisi rumah akan diselamatkan, sampai saya puasa, saya mau bayar harga untuk suami saya… Tidak makanpun saya mau, asal suami saya pulih… Saya tidak mau dia menjadi orang yang jahat, orang yang kasar sama saya…

Doa demi doa yang terus dipanjatkan oleh Winnie mulai terjawab saat Benny mengikuti camp pria di akhir minggu atas saran kakak iparnya. Dia tidak pernah menyangka, bahwa di sana dia malah dibawa ke alam maut. Dia disadarkan begitu buruknya kehidupan banyak orang terutama para pria, dia merasa seolah-oleh dia sedang dihakimi oleh Tuhan.

"Di situ air mata saya itu seperti membasahi lantai, semua yang digambarkan itu saya sendiri…". Kedamaian dan ketenangan mulai dirasakan Benny. Sebuah jawaban atas konflik rumah tangganya mulai didapatkannya. "Ternyata saya mengasihi istri saya itu bukan berdasarkan kasih yang sesungguhnya. Karena saya mengasihinya berdasarkan perasaan saya.
   
Di situ saya juga mendapatkan jawaban, bahwa sebagai suami, saya harus berfungsi sebagai imam. Tugas daripada imam adalah berdoa buat keluarganya…". Benny mengakui semua dosa-dosanya di sana, karena keterbukaan adalah awal dari sebuah pemulihan. Bahkan dia berani mengambil keputusan yang paling penting bagi masa depan keluarganya, yaitu untuk taat pada perintah Tuhan. "Saya pulang, saya berlutut di hadapan istri saya, saya minta ampun pada dia"

Winnie: Dia bilang, "Mami, mau nggak maafkan papi, karena selama ini saya sebagai suami tidak menempatkan kamu sebagai istri?". Saya heran pulang camp kok dia menjadi seperti ini, diapakan di camp… apa dia salah minum obat? Ternyata dia cium kaki saya, dia nangis dan minta maaf. Tapi saya belum yakin. Prosesnya selama 2 tahun baru saya katakan dari mulut saya bahwa saya percaya dia sudah berubah.

Winnie tak pernah menyangka, bahwa suaminya yang dulu sangat jahat ini telah berubah total. Suasana romantis kian terasa dalam kehidupan mereka hingga detik ini. Benny sudah menjadi suami yang baik, yang maunya bukan terus dilayani, tapi sudah mau melayani. Benny bisa mengatakan pada Winnie bahwa dia adalah wanita terindah yang Tuhan berikan untuk dia.

Winnie: Luar biasa Kau Tuhan, Kau buat suami saya benar-benar berubah… Saya dan dia sekarang menjadi seperti pengantin baru. Sampai orang lain iri melihat hidup saya, mereka nggak tahu dulunya bagaimana. Kalau bukan Tuhan yang bekerja, saya juga ngak sanggup mengubah suami saya.

Saya mengucap syukur bahwa saya punya Tuhan seperti Tuhan Yesus dan saya mau terus disempurnakan untuk menjadi makin serupa dengan Dia…

"Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela." (Efesus 5:25-27)

~ Sumber Kesaksian: Benny Herman & Winnie  / Elia Stories

Mengucap Syukur Dan Berterima Kasih

Semua Teman-Teman Yang Tuhan Yesus Kasihi. Jujur, saya sebenarnya bingung harus mulai dari mana. Perasaan saya, hati saya, pikiran saya, semua yang ada pada saya sekarang ini rasanya ingin meledak keluar. Bukan amarah, bukan kesedihan, tapi rasa gembira, senang, ungkapan syukur dan damai yang sungguh bukan main rasanya. (….jadi pengen nangis…) Beberapa waktu yang lalu, banyak sekali himpitan, gesekan, dentuman menghantam saya. Mental maupun rohani. Salah satunya, anak saya (11 bulan) sakit. Dan sakitnya itu, satu penyakit sembuh, datang penyakit yang lain. Dari di diagnosa TB, ususnya sepanjang 5mm rusak karena bakteri, didiagnosa DB, intoleran laktosa, demam/panas tinggi (Puji Tuhan gak sampai stuip). Belum lagi gesekan di internal keluarga, suami, dll. Dalam hal anak, saya gak habis pikir, sudah habis-habisan saya sangat menjaga higienitas, kesehatan dan gizi anak saya. Seluruh tenaga dan kekuatan juga kemampuan saya sebatas manusia saya kerahkan untuk anak saya. Tapi sepertinya usaha saya sia-sia. Ditambah beberapa tekanan dan gesekan yang terjadi dalam internal keluarga. Suami, orangtua, mertua, ipar….fiiuuhh…

Saya merasa kecil, gak berdaya, gelap mata, sumpek dan serba bingung gak tau harus berbuat apa…. Terlintas perasaan dan pikiran, semua dan segala sesuatu ini terjadi karena dosa saya. Saya merasa bersalah pada semua orang, dan saya sangat yakin pada saat itu, anak saya sakit karna dosa saya di masa lalu. Semua terjadi karena kesalahan yang pernah saya perbuat di masa lalu. Saya merasa tersudut dan sangat bersalah, apalagi jika pandangan saya sedang tertuju pada anak.

Teman-teman yang Tuhan Yesus kasihi, saat itu satu-satunya hal yang terbersit dalam pikiran saya adalah cuma satu. Bunuh diri. Yang saya rasakan saat itu sudah putus asa, lelah, tidak ada jalan keluar, stuck, merasa bersalah yang sangat amat besar terutama pada anak. Tiba-tiba, handphone saya berbunyi. Sms rohani rutin dari Pdt. Gilbert. Hati saya tidak bergeming, rasanya tetap hampa dan kosong sampai selesai membaca sms tsb. Terbersit di otak saya nama Pak Boy. Antara niat gak niat, saya coba sms dan coba-coba curhat gak niat ke Pak Boy. Saat itu di sms saya cuma bilang intinya mungkin kali ya anak saya sakit karena dosa saya di masa lalu. Dan saya gak yakin Pak Boy akan reply sms saya. Saya pikir, mungkin reply, tapi pasti baru besok, lusa, minggu depan, sebulan lagi baru sampai entah karna sibuk atau gak sempat.

Tapi belum sempat saya beranjak dari tempat duduk saya, saya sudah terima sms dari Pak Boy yang intinya bikin saya sungguh-sungguh terhenyak, menampar, mengguncang-guncang saya. Sms Pak Boy mengingatkan saya, dosa masa lalu kalau kita sudah memohon ampun dan bertobat pada Tuhan, Tuhan pasti sudah ampuni semua dosa saya. Iblis yang membuat saya masih merasa bersalah atas dosa masa lalu. Dan jika saya di dalam Yesus, saya berkuasa atas semua masalah saya (….jadi pengen nangis lagi….), berkuasa atas sakit penyakit, masalah yang saya atau anak saya derita, dan saya diminta tumpang tangan di atas badan anak saya dengan iman dan percaya dalam Yesus, dan Beliau bantu doa untuk saya dan anak saya.

Teman-teman, sempat dunia rasanya berhenti beberapa detik. Hening semua. Dan setelah itu juga pundak saya rasanya ringan, hati saya rasanya lega dan pasrah pada Yesus. Hati saya rasanya kosong, tapi bukan hampa. Kosong terlebih akan rasa damai dan lega bebas beban tidak ada lagi sandungan. Saya masuk ke kamar, menghampiri anak saya yang sedang tidur, berdoa, dan tumpang tangan atas anak saya. Pada awal mau tumpang tangan, hati saya agak ragu, apakah saya punya kuasa sebesar yang Pak Boy katakan, tapi di mata saya masih tercetak jelas sms dari Pak Boy tentang kuasa Yesus, dan saya meneguhkan hati dan percaya lalu berdoa dan tumpang tangan atas anak saya. Dan setelah itu saya pasrah pada Tuhan.

Teman-teman, anak saya sudah sembuh sekarang. Saya merasakan damai, sama seperti pada saat saya membaca sms berkat dari Pak Boy. Berbagai masalah sudah mulai satu per satu surut, pasang, surut lagi…. Tapi sebelum saya menuangkan, menulis, mengabarkan, pamer-pamer ke teman-teman saya seiman mengenai ini semua, rasanya saya belum sreg. Dan satu hal lagi, dalam hati saya berjanji. Pak Boy harus tahu akan hal ini. Tuhan sungguh-sungguh memakai Pak Boy sebagai perpanjangan tanganNya untuk menarik kembali saya, menegur saya, menampar saya, meneguhkan kembali saya, mengingatkan saya, mengatakan pada saya seolah-olah, "Hei!! Sampe kapan kamu mau diperbudak iblis? Dipermainkan iblis? Diombang-ambingkan  oleh si iblis? Apakah kamu mau begitu saja menyerah pada dunia dan menyerahkan nyawamu yang berharga dan sudah dimeteraikan oleh Yesus sendiri pada iblis?" Jawaban saya tentu saja "TIDAK!"

Teman-teman, maaf kalo curhat saya jadi kepanjangan ^_^ Tapi kembali saya mau mengucap syukur dan terima kasih sesuai dengan subject saya diatas. Ucapan syukur dan terima kasih saya pada Tuhan Yesus dan Pak Boy yang sanggup menarik dan menguatkan saya kembali. Terima kasih Yesus, Terima kasih Pak Boy. Tuhan Selalu Berkati Pak Boy dan Keluarga.

Sebenernya masih banyak yang ingin saya ceritakan, tapi berhubung air mata sudah berada di pinggir batas kelopak mata bagian bawah dan sepertinya sudah mau tumpah, tambah lagi sekarang saya sedang berada di kantor, jadi curhat saya ini saya singkat-singkat dan saya akhiri sampai disini. Maaf kalau teman-teman rada bingung membaca curhatan saya ini, lha wong pandangan/pengelihatan sudah mulai ndak jelas dikarenakan ada beberapa embun air mata yang mengganggu pemandangan.

Tuhan Memberkati kita semua,

By: Helen, email: Priscillia.Helen@bcg.com / Elia Stories

Karena Yesus Yg Memulainya Terlebih Dahulu

"KARENA YESUS YANG MEMULAINYA TERLEBIH DAHULU", kalimat yang sering diucapkan orang Kristen.  Kalimat tersebut begitu besar artinya bagi saya.  Saya belajar dari seorang teman yang  mengalami secara langsung   suatu peristiwa penting dikehidupan sehari-hari meskipun terjadi secara tidak sengaja. Ia selalu menjaga persekutuannya dengan Tuhan,  itulah yang saya lihat dalam kehidupan sehari-hari.  Teman saya ini mempunyai karakter yang baik dan saya tidak punya alasan mengolok-olokkannya dengan menyebut fanatik seperti kebiasaan buruk saya selama ini.  Saya menghormatinya dan sering   bertanya," Mengapa karakter itu penting?" .  Jawabannya sederhana dan mencengangkan ," Iman yang menghubungkan Tuhan dengan manusia tetapi karakter yang menghubungkan manusia dengan manusia.  Tidak cukup mempuyai hubungan yang baik dengan Tuhan saja selama kita hidup didunia".  Saya sering merenungkan kembali peristiwa yang telah dialami teman ini  dan yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan  Yesus juga melakukan hal yang sama kepada saya maupun orang lain .  Hanya dalam banyak hal saya kurang peka dan terkadang cuek dibandingkan dengan orang lain.

Saya harap cerita berikut  dapat membantu  untuk mengerti arti kalimat,"KARENA YESUS YANG MEMULAINYA TERLEBIH DAHULU".  Inilah peristiwa  yang terjadi pada teman saya, Rangga.
 
Saya bekerja diperusahaan swasta tepatnya dibagian mesin. Orang mengatakan memperbaiki mesin sulit dikarenakan mesin bekerja berdasarkan urutannya dan sistimnya rumit dan terdiri dari beberapa bagian (kami sebut station) . Satu bagian berhenti berarti semua bagian lainnya berhenti . Tetapi percayalah menghadapi mesin masih jauh lebih mudah daripada menghadapi manusia. Bila mesin berhenti beberapa hari karena seseorang melakukan kesalahan dan divisi kami tidak dapat memperbaikinya, masih ada konsultan yang membantu  menyelesaikannya dalam waktu singkat. Tetapi bila berhubungan dengan manusia dan terjadi kesalahan, bisa jadi masalah terbawa-bawa selama sebulan, dua bulan…setahun.lima tahun kedepan ..bahkan seunur hidup
 
Disetiap perusahaan ada bermacam-macam tipe orang yang harus dihadapi, mulai dari  tipe lurus, tipe usil yang suka ngerjai orang, tipe yang suka memburuk-burukkan rekannya bahkan ada yang mau mengorbankan orang lain demi kemajuan pribadi. Semua perusahaan mempunyai tipe-tipe pekerja ini dan saya mengetahuinya karena  sudah pernah beberapa kali pindah kerja dikarenakan sulit menghadapi orang.
 
Diperusahaan terakhir saya belajar berkomunikasi dengan semua tipe karyawan. Saya juga berdoa pada Tuhan Yesus agar mereka  berubah, terutama yang sifatnya kurang baik. Hasilnya sedikit sekali yang berubah dan sayalah yang harus berubah pada akhirnya.
 
Budiman demikian namanya. Semua orang tidak menyukainya dan sudah menjadi bahan cerita sesama rekan. Ngomong-ngomong saya juga salah satu yang menceritakan keburukannya . Budiman pintar bersilat lidah, inilah kata yang tepat bila ia mulai megadu domba orang (istilah kami). Ia cepat melapor kepada atasan dengan membelokkan cerita sebenarnya. Saya pribadi mempunyai ungkapan khusus untuknya," Jangankan melihat , mendengar suaranya saja semangat kerja sudah hilang" dan semua teman-teman membenarkannya. Senyumnya merekah, suaranya lembut membujuk saat meminta tolong dan begitu muncul masalah, dimulailah proses cuci tangan dengan menuduh rekan kerja satu tim penyebabnya. Saat disapa lebih sering mendengus sambil membuang muka. Hampir semua orang (kecuali atasan tentunya) terintimidasi, direndahkan dan hampir tidak pernah dihargai bila saling bekerjasama . Rasanya persis seperti seseorang yang ditipu mentah-mentah berulang-ulang ketika bekerja satu grup dengannya. Bagi saya hal ini sangat mengganggu, terlebih  bila mengingat saya sering bekerjasama dengannya meskipun kami berbeda divisi.
 
Suatu ketika sedang diadakan tes material untuk menentukan layak tidaknya material  dipakai. Ia meminta langsung kepada saya supaya mesin diberhentikan. Pertikaian  tidak dapat dihindarkan.  Ditengah kejengkelan, saya mengatakan bahwa saya tidak keberatan sepanjang atasan saya menyetujuinya. Ia langsung mengancam akan memberitahu atasan saya dan saya langsung menelepon atasan saya. Hasilnya memang tidak ada informasi akan ada pengetesan. Dengan mendongkol ia meminta ijin kepada atasan saya supaya material dapat ditest tetapi tidak diijinkan. Saya lega, puas dan paling tidak skor satu kosong untuk saya. Meskipun begitu kejengkelan terhadapnya tidak surut dan ini sangat mempengaruhi kinerja saya yang pada akhirnya menjadi buruk .
 
Dua minggu terakhir saya tidak tenang membaca Alkitab, sudah dua minggu juga saya tidak tenang berdiam diri dihadapan Tuhan sambil berdoa. . "Sapa Budiman ", demikianlah sebuah suara mengatakan dikepala saya setiap pagi saat bersekutu dengan Tuhan. Penyebabnya pasti Budiman lagi . Setelah direnungkan lebih dalam, saya menyimpulkan penyebabnya saya yang tidak dapat memaafkan Budiman. Saya membiarkan luka menganga setiap hari. Jika masalah ini dibiarkan terus menerus tanpa diselesaikan , sudah pasti akan mengganggu pekerjaan dan memang benar. Kehidupan saya selama hari-hari itu benar-benar kacau dan ada perasaan tertekan.
 
Menyapa Budiman adalah cara yang paling baik untuk memulai persahabatan tetapi saya enggan menyapa terlebih dahulu . Tidak adil rasanya, hampir semua rekan-rekan tidak menyukai Budiman dan terlalu banyak yang dilukainya termasuk saya. Mengapa bersusah payah memulai persahabatan baru?.
 
Tetapi suara, "Sapa Budiman " setiap pagi terus mengganggu saat bersekutu denganNya. Hati seperti ditusuk, badan rasanya berat sekali dan pikiran tidak lagi berkonsentrasi saat membaca Alkitab maupun berdiam diri sambil berdoa. Saya tetap enggan menyapa Budiman , tidak adil melakukannya. Budiman yang menyakiti saya Tuhan demikian saya mengeraskan hati selama berhari-hari.
 
Beberapa hari mengeraskan diri menyebabkan persekutuan dengan Tuhan dilakukan secara terpaksa. Bentuk penyiksaan lain lagi guman batin saya. Tetapi saya paksakan juga dan sekali ini saat suara itu berkata, "Sapa Budiman ".Saya tidak tahan lagi dan hati berteriak ,"KENAPA SAYA HARUS MENYAPANYA, TUHAN!". Pada saat itulah saya merasa damai, tenang dan tidak dimarahi atau dituduh Tuhan dan saya tahu entah bagaimana hadiratNya hadir pagi itu.
 
Selesai bersekutu dengan Tuhan, saya bingung dan terkejut. "Mengapa Tuhan hadir meskipun saya belum menyapa Budiman?".
"Mengapa Tuhan tidak marah?".
"Mengapa Ia hadir saat saya tidak layak menerimanya? Mengapa Ia hadir saat saya enggan memaafkan Budiman" Semua pertanyaan memukul saya lebih telak lagi. Sepanjang pagi merupakan hari yang harus dijalani dengan beban bertambah berat lagi.
 
Melalui pergumulan berat dan menyerah, sebuah pertanyaan tulus dan jujur muncul dihati , "Saya belum menyapa Budiman dan Engkau hadir dipagi hari. Mengapa, Tuhan?" .
 
Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul begitu saja,"Jika Tuhan tidak hadir terlebih dahulu, engkau tidak akan mau bersekutu dengan Tuhan lagi", inilah pukulan telak berikutnya yang harus saya terima. Disaat bersamaan saya juga mengerti sejelas-jelasnya kalimat "Sapa Budiman ". Artinya sangat sederhana, saya harus menyapa Budiman karena saya harus terlebih dahulu menyapanya, persis seperti yang Tuhan lakukan pada saya saat Ia hadir dipagi itu. Saya gembira sekali, menangis dan meminta maaf atas kesalahan saya terhadap Budiman kepada Tuhan secara spontan dan beban yang selama ini menghimpit saya terangkat. Akhirnya ada keinginan dan tekad untuk menyapa Budiman .
 
Hati saya sudah bulat untuk menyapa Budiman, esok paginya saya bertemu di lift. Dengan hati berdebar-debar disertai rasa malu, saya menyapa sambil tersenyum tulus. Tetapi yang saya terima adalah sebuah dengusan dan ia membuang muka. Sedih dan kembali sangat terpukul . "Mengapa balasannya hinaan lagi, Tuhan ? " teriak batin saya. Sangat mengecilkan hati menerima penghinaan meskipun menerima perintah Tuhan untuk menyapa Budiman. Didalam keputus asaan saya hanya berkata," Apa yang Kau perintahkan sudah dilakukan, Tuhan. Yang terbaik telah kulakukan", dan saya berjanji untuk tidak memendam dendam lagi.
 
Keesokan harinya kami berpapasan lagi dan ajaib ia tersenyum dan begitulah selanjutnya kami berpapasan sambil tersenyum bahkan bila tidak tersenyum kami tidak mempunyai pandangan saling melukai lagi . Perlahan-lahan saya mulai menghormati dan belajar untuk tidak menyinggung hal-hal yang dapat melukainya atau menimbulkan pertikaian. Bila ada salah pengertian, saya akan menjelaskan apa adanya dan ia bisa menerima duduk persoalannya.
 
Dua tahun setelah peristiwa ini, saya tidak bekerjasama dengan Budiman. Budiman sudah pindah ke divisi lain di dalam perusahaan kami. Tuhan tidak merubah Budiman, Tuhan mengubah saya dan Budiman masih tetap seperti yang lalu-lalu. Saya tidak memikirkan peritiwa ini lagi, semua sudah selesai.
 
Tahun ketiga setelah kejadian , saat istirahat siang kami bertemu di area rest room (ruang istirahat). Hanya kami berdua dan ia kelihatan tertekan. Saya diam aja karena tahu ia sedang ada masalah. Secara emosi dan tidak sengaja ia mengatakan," Sukar sekali bekerja dengan tim-tim yang lain. Mereka mau enaknya saja, sulit menerima masukan dan mau menang sendiri". Saya terus berdiam diri dan ia mengeluarkan seluruh keluh kesahnya. Akhirnya ia terdiam dan saya tidak berani memberi komentar. " Hanya dengan bapak saya dapat bekerja sama dengan baik , dengan yang lain susah. Sayang, kerjasama yang telah kita lakukan tidak dapat dilakukan digrup saya sekarang". Saya terdiam dan terkejut mendengar komentar Budiman yang sangat mencengangkan.
 
Sampai saat ini saya selalu merenungkan peristiwa yang dialami Rangga. "Jika Tuhan tidak hadir terlebih dahulu, engkau tidak akan mau bersekutu dengan Tuhan lagi", selalu terngiang ditelinga hanya dalam pengertian yang berbeda. Saya mengartikan kalimat "Jika Tuhan tidak hadir terlebih dahulu, engkau tidak akan mau bersekutu dengan Tuhan lagi" dengan kalimat "KARENA YESUS YANG MEMULAINYA TERLEBIH DAHULU" karena lebih mudah saya memahaminya . Kalimat ini selalu menyejukkan perasaan saya serta memberi damai. Tuhan juga bisa membujuk dan memberi semangat dengan caranya yang khas. Tuhan juga melakukannya kepada saya dengan cara yang berbeda, meskipun dalam beberapa kesempatan saya kurang bahkan tidak peka sama sekali. Saya perlu belajar lebih peka lagi.

Disaat benar-benar tertekan, putus asa tiba-tiba merasa damai dan ingin berdoa.
Disaat diri tertuduh karena kesalahan dan masa lalu tiba-tiba ada kerinduan untuk meminta ampun kepadaNya dan berjanji merubah kelakuan.
Disaat kemarahan hampir mencapai puncak tiba-tiba suasana begitu damai dan mengingatkan kembali untuk memikirkan apakah yang akan saya lakukan sudah benar?
Disaat jenuh membaca Alkitab tiba-tiba muncul ayat Alkitab dikepala dan saya mengerti artinya.
Disaat semua jalan telah buntu tiba-tiba saya mendapat ide atas masalah tersebut.
Disaat berhenti berdoa tiba-tiba muncul keinginan untuk berdoa bahkan doa yang telah saya lupakan dijawabNya dan banyak peristiwa lain. Merupakan cara lain Tuhan mengatakan , "Karena Yesus yang memulainya terlebih dahulu".
 
"KARENA YESUS YANG MEMULAINYA TERLEBIH DAHULU" dan dilakukanNya dengan cara sederhana, sudah banyak membantu saya dalam menghadapi permasalahan yang sulit, menghindarkan saya dari sikap masa boboh, mengubah karakter saya (meski belum semuanya) bahkan menyelamatkan nyawa saya. Sering saya malu sendiri , Tuhan harus mengulangi mujizat sederhana ini sebelum saya berubah ataupun masalah saya terpecahkan. Tetapi juga saya merasa senang Tuhan memperhatikan saya dan menerima apa adanya. Paling tidak saya mengerti apa artinya punya Yesus yang peduli!
 
Saya percaya Ia melakukannya kepada orang lain. Apakah seseorang mengerti atau tidak adalah masalah kedua. Masalah pertama adalah Ia melakukan mujizat sederhana bahkan sangat sederhana . Ia melakukan mujizat lebih banyak dari yang dipikirkan orang melalui : "KARENA YESUS YANG MEMULAINYA TERLEBIH DAHULU".

~  Andiko Trikasi (tarigle1@yahoo.com)

Kesetiaan Dalam Pergumulan Berat

Kesetiaan Dalam Pergumulan Berat

Written by Margareth Linandi

Halo, teman-teman,saya mau menceritakan tentang kisah nyata salah satu
keluarga kami yang mengalami penderitaan, kesusahan namun tetap setia
mengikut Tuhan.

Opa saya mempunyai banyak anak dan semuanya percaya kepada Tuhan
termasuk ii-ku (selanjutnya disebut bibi) yang bernama Merry.

Semenjak menjalani pernikahan, dia menjalani kehidupannya dengan sangat
menderita, banyak pergumulan disana sini dan pergumulan ini
bertambah-tambah sejak kelahiran anak kedua. Anak kedua ini lahir sehat
namun pada saat itu dia sudah mulai berhenti bekerja dan menganggur
sehingga kehidupannya pas-pasan dan harus dibantu oleh keluarga.

Anak-anaknya bernama Daniel dan Yesaya, yang juga percaya kepada Tuhan.
Yesaya adalah anak yang sangat lucu dan menjadi bahan perhatian dan
kasih semua orang sehingga Semua sanak keluarga mencintainya dan dia
sangat mencintai mama dan papanya. Yesaya bertumbuh semakin besar dan
sering bermain ke rumah opa (sekarang sudah almarhum) di Teluk Gong.
Suatu hari, ketika dia sedang di rumah opa, dia sering menangis dan
menangis. Biasanya dia suka makan dan makanan kesukaan yang kami ingat
adalah  bakso.

Suatu kali, dia tidak nafsu makan dan badannya lemas karena terkena
demam. Orang tuanya berpikir bahwa itu hanya demam biasa dan bisa
diobati. Ternyata demamnya cukup lama, kurang lebih 1 bulan dan
demamnyatinggi.

Suatu kali saat dia dalam kondisi demam tinggi, mamanya membawanya ke
dokter anak dan disana Yesaya tertidur lelap. Mamanya berpikir Yesaya
tertidur karena demam itu namun ternyata demam tinggilah yang
menyebabkan Yesaya tidak sadarkan diri dan tidak bisa membuka matanya.

Cukup lama Yesaya dirawat di rumah sakit namun tidak ketahuan apa
penyakitnya. Yesaya masih tetap demam. Banyak diagnosa yang diberikan
dokter sampai menyebabkan Yesaya harus diam dengan lama di rumah sakit
(di ICU). Keluarganya sangat miskin namun anak ini harus mengalami
penderitaan cukup lama. Namun satu hal yang sangat dikenang, Yesaya
tidak pernah menangis ketika kondisinya makin lemah. Selama menjaga
Yesaya di rumah sakit Husada Jakarta mamanya terus berdoa dan berserah
pada Tuhan. Kalau Yesaya harus dipanggil dia sudah siap.

Selain itu banyak juga godaan-godaan selama Yesaya sakit di mana banyak
hal yang sebenarnya bisa membuat mamanya Yesaya meninggalkan Tuhan.

Pada saat menunggu Yesaya di rumah sakit, banyak orang termasuk orang
yang belum percaya Tuhan, yang menawarkan bermacam-macam hal
perdukunan,
seperti memakaikan gelang pada tangan Yesaya dan lain-lain, namun bibi
saya tetap bertekad tidak akan melakukan hal-hal yang menyedihkan hati
Tuhan. Lebih baik jikalau anaknya memang harus mati daripada menyangkal
Yesus. Ia juga menunjukkan satu teladan yang indah, yaitu tidak
bersungut-sungut dan tetap bersyukur pada Tuhan.
Penyelidikan demi penyelidikan dilakukan dan ternyata Yesaya mengidap
cairan di otak dan dioperasi kemudian pada scanning kedua juga
didapatkan ada cairan di otak kanan dan persentasi kesembuhan kecil,
namun kondisinya tetap juga parah.

Kemudian, kondisinya makin parah saat ditemukannya cairan darah di
otaknya dan sudah sangat sulit untuk dioperasi. Mama dan papanya hanya
berserah pada Tuhan, kemudian sampai pada akhirnya, Yesaya dipindahkan
ke kelas 3 dan dirawat di sana. Pada saat-saat terakhirnya, Yesaya
ketika sempat dikunjungi oleh bibi saya yang lain, dia masih ingat
makanan kesukaannnya dan minta makan bakso sehingga kami semua tertawa
mendengarnya.

Ada satu keajaiban sebelum Yesaya meninggal yaitu kakinya terlipat
bagus dan sudah bisa makan. Pada akhirnya Yesaya sempat batuk darah sebentar
sebelum kemudian meninggal dunia. Memang mama Yesaya sangat sedih, dia
tidak bisa menerima kenyataan ini, namun melalui peristiwa demi
peristiwa akhirnya mama Yesaya bisa kuat kembali dan bangkit untuk
melayani Tuhan.

Melalui kesaksian ini, biarlah menguatkan setiap kita yang membacanya.
Mungkin banyak masalah yang kita hadapi, tantangan, kesedihan namun
janganlah lupa, itu semua membentuk kita untuk semakin sempurna di
hadapan Tuhan dan itu akan menguatkan iman kita.

Jadi melalui kesaksian nyata ini, bagi teman-teman yang memiliki
masalah, jangan cemas, jangan salahkan Tuhan dan tetap setia ikut
Tuhan, jangan mencoba-coba jalan pintas untuk suatu kesembuhan,hanya Tuhanlah
yang menjadi dokter kita.

Bahkan kematian juga menjadi berkat terindah bagi anakNya yang percaya
karena dapat bertemu kembali dengan Dia.

Amin, Tuhan Yesus memberkati.

Penulis: Margareth Linandi

 

All Things Is Possible For God, You Can Face “THE GIANT”

All Things Is Possible For God, You Can Face “THE GIANT”

Written by Isak Rickyanto

Raksasa memang sudah tidak ada lagi di bumi ini, sehingga kita tidak perlu ketakutan bertemu dengan raksasa. Daud sendiri pernah bertemu salah satu “raksasa kecil” yaitu si Goliat dengan fisik tidak sebesar raksasa pada zaman sebelum Nuh.

Dalam keadaan yang baik-baik saja, kita bisa menjadi raksasa dalam kehidupan kita di mana seakan-akan masalah dapat kita hadapi semua dengan kekuatan sendiri. Sayangnya lebih sering kita merasa diri kita kecil dan tidak berdaya menghadapi raksasa kehidupan yaitu berbagai masalah serta pergumulan hidup sehingga seakan-akan kita merasa berhadapan dengan raksasa dan kemustahilanlah yang terpikir bagi kita untuk menghadapi bahkan mengalahkannya.

Tetapi jangan kuatir, karena apabila kita mendapati diri kita kerdil serta dikelilingi oleh raksasa-raksasa kehidupan, itu tanda Tuhan akan menjadikan hal itu menjadi pelajaran bagi kita untuk bersandar dan percaya padaNya atau mendewasakan kita.
Daud telah memberi contoh bahwa dengan kekuatan Allah tidak ada yang mustahil, dengan batu kecil dan ketapel saja dia bisa mengalahkan Goliat dengan nama Allah Israel.

Sekarang kita bayangkan cerita berikut:

“Seorang pelatih football SMU yang telah melatih timnya selalu gagal selama 6 tahun sehingga timnya tidak menjuarai kejuaraan apapun selama waktu itu. Dalam kegagalan itu, dia juga mendapati kehidupannya memburuk dan penuh kegagalan, seperti dia tidak bisa memiliki rumah yang layak, mobil yang layak bagi istrinya, serta tidak bisa memberikan keturunan bagi istrinya karena didiagnosa tidak subur olehdokter. Dan puncaknya dia mendengar dengan telinga sendiri pembicaraan dari sekolahnya untuk menghentikan dia sebagai pelatih…..

Sungguh sangat berat situasi yang dialami oleh pelatih football ini, dia telah berjuang dan berusaha sebaik-baiknya tetapi hasilnya jauh dari yang diharapkan bahkan sangat mengecewakan hatinya…

Puji Tuhan, pelatih ini seorang anak Allah yang kembali mengingat akan Allah yang ajaib, Gembala yang baik yang berkuasa….dia mencari firmanNya, berdoa dan berseru kepadaNya…”

Ikuti pergumulan pelatih football ini menyerahkan hidupnya dan memenangkan pergumulan hidupnya bersama Tuhan dalam film “Facing The Giants”

Informasi lebih lanjut klik websitenya: Facing The Giants

 

Dua Kali Tuhan Menyelamatkan Nyawa Ku

Dua Kali Tuhan Menyelamatkan Nyawa Ku

Written by jimmywidoyo@yahoo.com  

Berawal pada tahun 1999 bulan nov,saya bekerja sebagai seorang salesman di satu perusahaan makanan terbesar di Indonesia,suatu hari di  tgl 17 nov 1999 saat sudah menjelang mlm sekitar pukul 17.30,truk yang saya kendarai beserta sopir saya melaju sangat kencang sekali,karena kami buru2 ingin pulang kerumah,saat itu hujan turun rintik2. Perjalanan kami saat itu adalah dari kota blitar menuju ke kota kediri,tetapi ketika kami sudah setengah perjalanan entah karena sopir saya mengantuk…truk yang dikendarainya tiba2 keluar dari badan jalan,mungkin karena sangat kencangnya truk tersebut sehingga sopir saya kehilangan kendali,akhirnya truk tsb menabrak pagar tembok rumah org sepanjang 6 meter hingga hancur dan truk tsb berguling2 dijalan lalu berhenti dalam keadaan terbalik,dgn kondisi ban sdh diatas…ketika truk masih dalam kondisi berguling-guling saya heran karena saya masih tenang dan masih sempat berdoa kepada Tuhan untuk minta pertolongan.
 
PUJI TUHAN…..ketika truk tsb sdh berhenti saya keluar dari truk,dan  AJAIB!!!tidak ada satu pun atau sedikipun luka di tubuh saya,saya masih sadar total sementara sopir saya harus dibawa ke rumah sakit karena luka dalam.
 
Kejadian tragis yang kedua terjadi di bulan maret th 2007,ketika itu saya membawa sebuah mobil futura bersama teman saya dari kota malang menuju ke blitar,kebetulan waktu itu saya sendiri yang membawa mobil itu…
 
Pagi2 benar saya sudah berangkat,tetapi ketika sdh keluar dari kota malang,ditengah perjalanan tiba2 dari arah berlawanan ada 2 pengendara motor yang saling mendahului,mungkin karena terlalu dekatnya jarak mereka berdempetan sehingga salah satu motor tsb jatuh dan terlemar ke arah mobil saya,saat itu saya sangat kaget sekali dan tidak sempat menghindar sehingga akhirnya mobil saya menabrak  motor tsb,karena motor tsb menyangkut di ban mobil saya sehingga mengakibatkan mobil saya terbalik,dan disaat mobil saya terbalik ada sebuah mobil lagi yang melaju dengan kencang menabrak pula ke mobil saya,kejadian aneh seperti  yg pertama pun terjadi lagi,dalam kondisi mobil jungkir balik saya msh sempat berdoa kepada Tuhan.
 
Keajaiban pun terjadi,ketika mobil berhenti dlm keadaan terbalik,saya keluar dari dlm mobil dalam keadaan utuh tanpa luka sedikitpun,adahal mobil saya saat itu sdh berubah bentuk menjadi gepeng….
 
Setelah kejadian tersebut saya merenungkan bahwa Tuhan sangat menyayangi saya,Tuhan menunjukan begitu kasihnya yang besar kepada umatNya,cuma kadang kita sebagai manusia kurang penurutan terhadapNya,tdk menuruti perintahNya serta hukum2Nya
 
Semoga kesaksian kecil diatas bisa berguna bagi saudara2,untuk lebih setia lagi kepada Tuhan,Tuhan tdk menuntut apa2 kepada umatnya,hanya minta supaya kita mematuhi segala hukum2Nya,dan jangan dilanggar atau dirubah….
 
  
~ Jimmy

Share Pergumulan Hidup

Sharing pergumulan hidup, doa yang belum terjawab, kerinduan hati, pencobaan, atau penderitaan yang dialami, teman-teman bisa posting dan berbagi bersama kami disini.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer